solusi dikotomi

Standar

A.     Bagaimana Menyatukan Keduanya?

Penyatuan kedua sistem ini sudah banyak diupayakan. Secara garis besar upaya itu dilakukan dalam dua pola, pertama adalah adopsi sistem dan lembaga pendidikan moderen  secara hampir menyeluruh. Titik tolak modernisasi pendidikan Islam di sini adalah sistem dan kelembagaan pendidikan moderen, bukan sistem dan lembaga pendidikan Islam.

Eksperimen ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Abdullah Ahmad dengan Madrasah Adabiyah, yang kemudian diubah menjadi Sekolah Adabiyah (1915). Hanya sedikit ciri atau unsur yang membedakan dengan sekolah HIS Belanda saat itu, yaitu dengan menambahkan pelajaran agama dua jam sepekan. Selaras dengan itu Muhammadiyah mengadopsi sistem kelembagaan Belanda secara cukup konsisten dan menyeluruh, misalnya dengan mendirikan sekolah-sekolah ala Belanda, seperti MULO, HIS, dan lain-lain. Sementara itu sekolah Muhammadiyah membedakan diri dengan sekolah-sekolah Belanda hanya dengan memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulumnya (Azra, 2000, hal. 39).

Pola pertama ini tidak secara otomatis menjadikan lembaga-lembaga itu beridentitas Islam atau lebih jauh disebut lembaga pendidikan Islam. Identitas atau distingsi Islam pada lembaga-lembaga ini tidak memadai jika hanya terletak pada guru-gurunya yang memulai pelajaran dengan ucapan “Basmalah” atau “Salam”, atau adanya mushala dan fasilitas keagamaan lainnya.

Pada pihak lain terdapat eksperimen  yang bertitik tolak justru dari sistem dan kelembagaan pendidikan Islam sendiri. Di sini lembaga pendidikan Islam yang sebenarnya sudah ada sejak waktu lama dimodernisasi; sistem pendidikan madrasah dan pondok pesantren yang secara tradisional merupakan lembaga pendidikan indegenous, dimodernisasi misalnya dengan mengadopsi aspek-aspek tertentu dari sistem pendidikan moderen, khususnya dalam kandungan kurikulum, teknik, metode pengajaran dan sebagainya. Langkah ini dilakukan hampir semua negeri muslim, dengan menerapkan dua kurikulum sekaligus dalam lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian di samping pengajaran ilmu-ilmu tradisional Islam, seperti al-Qur’an, hadits, fiqh, bahasa Arab dan lain-lain, juga ditambahkan mata pelajaran mantiq, aljabar, dan ilmu falak, fisika, kimia dan ilmu-ilmu duniawi lainnya.

Langkah kedua ini pun bukan merupakan suatu pemecahan yang berhasil guna, bahkan hanya menambah beban bagi siswa, dan lembaga itu sendiri. Akibatnya siswa yang menjadi sasaran pendidikan tersebut tidak berhasil mencapai penguasaan yang memadai atas subyek-subyek utama mereka, atau mencapai standar yang sama dalam subyek-subyek umum, seperti yang dicapai oleh teman-teman mereka di sekolah-sekolah umum. Dalam kenyataannya sejumlah besar siswa dari lembaga-lembaga itu harus berusaha lebih keras agar dapat menguasai subyek-subyek moderen  (seperti ilmu fisika, matematika, geografi dan sebagainya). Akibatnya subyek utama yang menjadi disiplin ilmu mereka  terabaikan, hanya karena subyek-subyek moderen menuntun pada keilmuan dan pada akhirnya berarti pekerjaan yang terhormat dengan gaji tinggi dan prestise. Karena itu lembaga-lembaga tersebut kehilangan para siswa mereka yang cemerlang karena tidak ada yang menarik mereka untuk tetap belajar di situ dan lulus dari situ.

Meskipun memiliki berbagai kelemahan, kedua pola eksperimen di atas masih berlanjut hingga sekarang. Apa pun polanya, out put yang diharapkan dari pendidikan Islam—dalam arti konsep maupun lembaga—adalah keterpaduan antara dua  subyek keilmuan (keagamaan dan umum) dan spesialisai dalam bidang-bidang yang berlainan.

Sebuah negeri muslim sangat membutuhkan pengetahuan yang dapat meningkatkan standar materialnya. Satu kelompok siswa perlu mengambil spesialisasi dalam subyek-subyek umum yang berbeda-beda, tetapi satu kelompok lain harus mengambil spesialisasi dalam subyek-subyek keagamaan. Spesialisasi dalam ilmu-ilmu umum hendaknya disertai dengan pengetahuan yang memadai tentang kepercayaan-kepercayaan dan ibadah-ibadah dalam Islam, prinsip-prinsip moral yang dapat menguatkan karakter mereka. Ada baiknya mereka juga menguasai bahasa Arab secukupnya, sehingga dapat memahami dan mampu menterjemahkan karya-karya bahasa lain ke dalam bahasa Arab.

Kelompok yang mengkhususkan diri dalam subyek-subyek agama dapat mempelajari sejumlah kecil ilmu-ilmu umum, tetapi harus mencurahkan waktunya untuk melestarikan warisan-warisan Islam, serta harus menjauhkan kemungkinan timbulnya konsepsi-konsepsi yang salah menyangkut kepercayaan, ibadah dan hukum-hukum agama. Sebagian dari kelompok ini hendaknya dapat mencapai tingkat spesialisasi sehingga mampu memberikan pendapat-pendapat pribadi mereka jika tidak terdapat suatu teks (ijtihad). Kelompok kedua ini juga harus memiliki kemampuan berbahasa asing sampai pada tingkat pemahaman, sehingga mampu membaca dan memahami karya-karya orang asing tentang Islam, dan sebaliknya mampu menyajikan Islam yang sebenarnya dengan menggunakan bahasa asing tersebut (Al-Beely, dalam Husain & Ashraf, 1986: 105).

Pola pendidikan terpadu (integreted) inilah sebenarnya yang sangat diperlukan. Dengan demikian kajian tentang ilmu-ilmu empiris, mestinya tidak meninggalkan nilai-nilai ke-Islaman, begitupun sebaliknya.  Untuk itu harus dicari  rumusan tentang ilmu-ilmu duniawi, baik dalam tingkat epistimologi maupun aksiologi dari sudut pandang Islam. Tepatnya adalah bagaimana menjelaskan ilmu-ilmu alam itu dalam kerangka epistimologi Islam. Oleh karena itu para praktisi pendidikan dari berbagai disiplin ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu keagamaan, hendaknya duduk satu meja untuk bersama-sama merumuskan kembali model pendidikan Islam yang diharapkan, serta guna menyatukan visi dan misi pendidikan tersebut. Kalau upaya ini sudah tercapai, perbedaan kelembagaan bukan merupakan persoalan, yang terpenting adalah kesamaan visi dan misi itu sendiri.

Hal lain yang perlu juga dilakukan adalah membangkitkan kembali dinamika intelektual yang pernah berkembang di pusat-pusat peradaban Islam baik Cordoba dan Baghdad. Penumbuhan kembali dinamika intelektual ini tidak menuntut dihidupkannya theologi rasional yang pernah berkembang. Usaha itu bisa dilakukan pertama dengan memahami ide dasar penetapan hukum (hikmat al-tasyri’) dan mencari ‘illat al- hukm, ratio logis) yang terwujud dalam kaidah-kaidah yurisprudensi. Untuk bahan perenungan yang lebih luas dan mendalam, perlu juga dipahami kaidah-kaidah pokok yurisprudensi atau Ushul al-Fiqh sebagaimana telah dirintis oleh para mujtahid. Metode berfikir ini akan menghasilkan dinamika intelektual yang kreatif, bebas dan responsif terhadap tantangan zaman. Lebih jauh lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan menjadi salah satu faktor dinamis dalam masyarakat Islam, dan bukan justru menjadi bastion (kubu) kemapanan yang membela kebekuan pemikiran dan keilmuan (Madjid, 1997: 29).

Dinamika keilmuan juga ditumbuhkan dengan memperhatikan dan mempelajari alam sekeliling kita baik alam besar, jagat raya,  maupun alam kecil manusia sendiri dan kehidupannya, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Namun berbeda dengan etos ilmiah Barat sekarang ini, etos ilmiah Islam bertolak dari rasa keimanan dan taqwa, kemudian membimbing dan mendorong orang ke arah tingkat keimanan dan taqwa yang lebih tinggi dan mendalam. Dua hal inilah yang harus dibangkitkan kembali untuk mengikis dikotomi dalam pendidikan Isalm.

B.     Penutup

               Dikotomi pendidikan Islam bagaimanapun adalah   persoalan klasik yang sampai sekarang tetap menjadi agenda pokok dari upaya modernisasi pendidikan Islam. Berbagai solusi  yang ditawarkan mengundang kritik yang tidak sedikit, bahkan tidak jarang memunculkan kerumitan-kerumitan baru. Walaupun begitu solusi yang paling tepat harus terus diupayakan, dan ini menuntut kerja keras dan kerjasama yang erat dari siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s