pengertian dikotomi

Standar

A.    Pendahuluan

Pendidikan secara sederhana berarti penyebaran pengalaman dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pengalaman itu sendiri tidak bersifat individual semata, melainkan berupa pengalaman komulatif generasi sebelumnya yang tersimpan dalam tradisi, adat istiadat, seni, norma, etika, nilai dan sebagainya. Kesemuanya itu memiliki bentuk-bentuk yang jelas dan mencerminkan konsep dasar dari masyarakat pelaku pendidikan itu sendiri.

Begitu pun dengan pendidikan Islam—terlepas dari polemik tentang asal kata pendidikan Islam ta’liim, ta’diib, tarbiyah—kesemuanya bermuara pada satu pengertian bahwa pendidikan Islam berarti upaya penyebaran pengalaman-pengalaman ke-Islaman dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. sampai akhir zaman (Daradjad, 1992: 28). Adapun pengalaman itu sendiri terbagi ke dalam dua kategori yang pertama berupa ketrampilan-ketrampilan atau pengetahuan teknis yang sifatnya beragam dari masa ke masa dan cenderung untuk terus mengalami perubahan, yang kedua pengalaman yang didasarkan atas nilai-nulai konstan atau permanen dalam bentuk agama dan kitab suci. Pengalaman ini terdiri atas kebenaran-kebenaran abadi yang tidak tunduk pada proses perubahan, yang bagi seorang    muslim   didifinisikan dalam Al-Qur’an    dan Sunnah    (Husain & Asharf, 1986: 53).

Sistem pendidikan di atas  merupakan ciri khas masyarakat muslim selama berabad-abad.  Dalam hal ini kebaikan esensial manusia, tuntutan tanggung jawab manusia, janjinya untuk mentaati seperangkat nilai yang diberikan oleh Tuhan, semua itu membentuk dasar dari pendidikan apa pun yang diterima oleh pemuda muslim. Hasilnya adalah tumbuhnya suatu masyarakat di mana generasi-generasi dan kedudukan-keduduan serta strata yang berlainan dapat hidup selaras satu sama lain di bawah naungan satu iman yang sama. Dengan demikian pendidikan Islam menghendaki adanya satu sistem yang mengajarkan subyek-subyek theologis murni dan sekaligus subyek-subyek duniawi seperti ilmu alam, perekayasaan dan ilmu kedokteran. Islam tidak menghendaki adanya pemisahan pengetahuan dengan cita-cita spiritual yang ingin diraih manusia, karena pemisahan tersebut akan melahirkan pengetahuan yang pincang, dan dapat dikatakan sebagai kebodohan baru. Akan tetapi yang terjadi sekarang, di hampir semua negeri muslim terdapat dua sistem pendidikan, yaitu tradisional dan moderen, yang dikenal dengan dikotomi atau diarkhi pendidikan Islam.

B.     Makna

               Dikotomi (diarkhi) Pendidikan Islam, berangkat dari pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu non-agama atau keduniawian (profan). Pemisahan ini selanjutnya  membawa kepada pelaksanaan dua sistem pendidikan, yaitu  tradisional dan  moderen yang dalam banyak hal saling bertentangan atau setidak-tidaknya kurang bersesuaian. Sistem pendidikan tradisional merupakan sisa-sisa dan pengembangan sistem zawiyah, ribat atau pondok pesantren dan madrasah yang telah ada di kalangan masyarakat. Pendidikan ini pada umumnya tetap mengembangkan kurikulum tradisional yang hanya memberikan pendidikan dan pengajaran keagamaan. Sedangkan Sistem moderen pada umumnya dilaksanakan oleh pemerintah, yang pada mulanya adalah dalam rangka memenuhi tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah, dengan menggunakan kurikulum dan mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan moderen. Sistem ini mengambil pola sistem pendidikan Barat dengan penyesuaian-penyesuaian dengan Islam dan kepentingan nasional (Zuhairini, 1997: 124).

Perbedaan kedua sistem itu bagaimanapun bukan hanya dalam struktur luarnya, melainkan juga perbedaan   pendekatan dalam tujuan pendidikan. Sistem tradisional didasarkan atas seperangkat nilai yang ada dalam al-Qur’an. Dinyatakan bahwa tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah menciptakan manusia yang taat kepada Tuhan dan akan selalu berusaha untuk patuh kepada perintah-perintahnya sebagaimana yang ditulis dalam kitab suci. Kesalehan merupakan tujuan yang ingin dicapai di sini. Oleh karena itu hanya subyek-subyek theologis murni yang diajarkan di sini. Agama pembanding, studi komperatif Islam dan sistem-sistem hukum Barat diabaikan sama sekali. Tantangan-tantangan peradaban moderen tidak dijawab atau bahkan tidak disadari keberadaannya. Pendidikan ini menghasilkan  seorang manusia yang dikarunia rasa ketaatan yang sangat besar, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap perkembangan IPTEK (Djamaluddin & Abdullah Aly, 1999: 24)

Di lain fihak sistem moderen yang tidak secara khusus mengesampingkan Tuhan, berusaha untuk tidak melibatkan Tuhan dalam menjelaskan asal-usul alam semesta beserta fenomena alam lain. Bahkan subyek-subyek keagamaan pun hendaknya diajarkan dengan cara yang sama dengan subyek-subyek non agama, seperti matematika dan geografi. Pendekatan pada pengetahuan sampai batas-batas tertentu bersifat skeptis (Husain & Asharf, 1986: 74). Akibatnya produk yang dihasilkan adalah  sesorang yang beranggapan bahwa tidak ada batasan dari kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya, dan bahkan mampu membentuk sendiri kehidupan yang dijalaninya, tanpa melibatkan tuntunan Ilahi.

Dualisme ini barangkali tidak menjadi persoalan bila sebatas pada spesialisasi keilmuan tanpa mengabaikan yang lain. Terlebih lagi menurut Qomaruddin Hidayat (2000: viii) kesatuan agama dan pengetahuan hanyalah fenomena pra-moderen sebelum ilmu-ilmu berkembang seperti sekarang. Ketika itu institusi pendidikan—dengan demikian juga ilmu pengetahuan—belum berdiri secara otonom, dan masih manjadi bagian dari wilayah lain, khususnya agama dan politik.

Akan tetapi yang terjadi, justru dualisme itu tidak membentuk suatu harmoni, malainkan menimbulkan garis pembatas yang saling menjauhkan satu sama lain. Sehingga muncul anggapan bahwa telaah mengenai sejarah, matematika, atau fisika nuklir mewakili sesuatu yang sama sekali bertentangan dengan telaah mengenai Al-Qur,an dan seterusnya. Sebaliknya kajian-kajian keagamaan hampir tidak melibatkan ilmu pengetahuan umum, kalau toh ada sifatnya hanya reaktif dan bukan antisipatif.  Hal ini mengakibatkan adanya kesenjangan antara ilmu pengetahuan agama yang bersifat normatif dan berdimensi ubudiyah dengan ilmu pengetahuan umum dan teknologi yang  bersifat rasional, dinamis dan bernilai ekonomis. Hal ini selanjutnya menuntut adanya upaya pengintegrasian ilmu pengetahuan agama dan umum, dan bahkan menuntut adanya keterkaitan antara materi pendidikan dengan ketenagakerjaan (link and match).

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s